Sudah hampir 3-4 minggu saya karantina di rumah. Rasanya di rumah itu awalnya jenuh, bingung, semua serba monoton. Tetapi, akhirnya saya temukan 6 cara tetap waras dan kreatif di saat sulit seperti ini.

1. Menulis

Hobi saya menulis. Menulis apa saja, lebih tepatnya. Perkenalan menulis itu sejak SD, saat saya belajar menulis dan membaca lewat medium buku harian (diary).

Saya tahu kalau kemampuan literasi dan membedakan huruf tidak secepat anak-anak lain. Jadinya, saya lahap saja semua buku yang diberi ayah dan ibu. Buku pelajaran yang nganggur di meja guru, saya ambil begitu saja untuk mengusir kebosanan di kelas.

Karena membaca, kosakata pun bertambah. Rasanya senang sekali bisa ketemu kosakata baru dan menghubungkannya dengan pengetahuan yang saya punya. Syukur-syukur bisa cerita pengalaman. Nah, menulis ini ternyata jadi saluran berekspresi saat SMP dan SMA, masa lagi berontak-berontaknya.

Saya bisa menulis protes, rasa sedih, kritik, bahkan argumentasi lewat buku harian. Tentunya, kebiasaan menulis seperti ini nggak sengaja terbawa saat kuliah. Kuliah, masa lagi idealis-idealisnya, semakin kencang latihan menulis.

Bayangkan, tiap hari selalu saja ada tugas menulis saat kuliah. Baik itu mata kuliah jurusan, atau mata kuliah fakultas dan universitas. Rasanya semakin berat menulis itu. Karena harus mengelaborasi fakta, data, dan sedikit pandangan atau opini. Apalagi kalau tuntutannya harus objektif. Jadi makin banyak deh artikel atau buku yang dibaca.

Inilah penampakan meja belajar saya di rumah, Bekasi, 16 April 2020. Meja belajar ini dipakai sejak SMA (sekitar tahun 2012) sampai sekarang. Masih awet kan? Foto: Nadia K. Putri - nadiakhadijah.com
Inilah penampakan meja belajar saya di rumah, Bekasi, 16 April 2020. Meja belajar ini dipakai sejak SMA (sekitar tahun 2012) sampai sekarang. Masih awet kan? Foto: Nadia K. Putri – nadiakhadijah.com

Waktu itu, saya juga iri dengan teman-teman yang kerja dan berpenghasilan sebagai guru privat. Jadilah saya cari proyekan lepas. Akhirnya, bertemu situs-situs penyedia kerja lepas seperti Freelancer, Sribulancer, Projects.co.id, Upwork, Fastwork, dan sebagainya.

Rasanya semakin sulit menulis itu. Karena harus mengikuti algoritma Google, tepatnya SEO. Tujuannya, supaya situs atau blog masuk ke pencarian Google. Belum lagi harus mengolah referensi agar tulisan tetap organik. Walaupun kesannya re-write juga sih hehe.

2. Tetap bekerja, kerja dari rumah (WFH)

Kebetulan saat karantina di rumah seperti ini, kerja dari rumah itu nyata banget. Mengerti banget kalau jadi pekerja lepas atau freelancer di Indonesia itu masih belum dianggap. Bahkan kesannya seperti pengangguran lantaran jarang ngantor.

Padahal…..

Soal freelance itu bisa ceki-ceki di sini: 4 Serba-Serbi Pekerja Lepas

Akhirnya, orang sekarang percaya kalau kerja dari rumah atau work from home (WFH) itu ada. Benar-benar ada. Asal terhubung dengan koneksi internet dan gawai yang mendukung, maka komunikasi dan pekerjaan tetap berjalan semestinya.

Mengirim hasil pekerjaan bisa lewat situs pekerja lepas atau surel. Kalau kelelahan, bisa istirahat sebentar sambil cek-cek sticky notes. Atau buka gim aplikasi e-commerce sambil panen THR atau putar roda rezeki.

“Checklist nggak nih”

“Duh masih banyak deadline!”

“Ngopi dulu dah”

Atau sekedar peregangan dan bermain dengan hewan peliharaan. Penting sekali untuk nggak duduk lebih dari 1-2 jam. Demi kesehatan tubuh. Supaya nggak stres dan tetap kreatif di saat sulit seperti ini.

3. Pos artikel blog

Nggak jauh-jauh dari menulis, ternyata menulis artikel blog juga menyenangkan. Apalagi kalau dipancing atau ke-trigger postingan di Instagram. Pasti deh, ada saja yang mau ditulis!

Sticky notes di lemari belajar, Bekasi, 31 Maret 2020. Sticky notes ini biasa saya gunakan untuk ceklis tugas, catat ide, daftar wishlist, atau sekedar coret-coret tes pulpen. Foto: Nadia K. Putri - nadiakhadijah.com
Sticky notes di lemari belajar, Bekasi, 31 Maret 2020. Sticky notes ini biasa saya gunakan untuk ceklis tugas, catat ide, daftar wishlist, atau sekedar coret-coret tes pulpen. Foto: Nadia K. Putri – nadiakhadijah.com

Supaya nggak lupa, saya catat di sticky notes seperti yang ada di foto tersebut. Kalau bisa warna-warni, supaya terus ingat. Tempel di meja belajar atau lemari. Kalau memang pelupa banget, rekam di ponsel. Lalu, putar ulang sampai idenya nyangkut.

Jadilah draf artikel blog!

4. Edit foto

Sebenarnya hobi motret itu sejak SMP. Tetapi baru serius saat kuliah, sampai akhirnya dapat kesempatan magang di sebuah perusahaan media daring. Nah, soal mengedit foto, saya pun belajar otodidak di internet.

Mulanya tahu kalau edit foto itu hanya lewat Photoshop. Ketika diceletukin teman sefakultas, eh ternyata bisa dong pakai Lightroom. Astaga, Lightroom itu terasa ringan daripada Photoshop di laptop. Kenapa baru tahu pas kuliah ya? ☹

Kebiasaan edit foto dengan Lightroom terus berjalan hingga sekarang. Meskipun ada alternatif aplikasi seperti VSCO dan Snapseed.

Biasanya, saya concern mengedit metadata foto. Metadata itu seperti nama file foto, waktu dan tanggal, kapsi (caption), nama kreator/fotografer, hak cipta (copyright) dan tanda air (watermark).

Makanya proses mengedit foto agak lama gara-gara ini hehe. Kadang-kadang, juga lama karena memilih filter warna. Untungnya, sekarang beralih ke filter hitam-putih (black and white).

Rata-rata, saya menggunakan filter bawaan Lightroom, unduhan dari beberapa situs fotografi, dan dari fotografer Eric Kim. Untuk filter dari fotografer Eric Kim, silakan kunjungi situsnya di sini.

5. Istirahat

Istirahat ini universal. Bisa tidur. Jeda sejenak dari informasi-informasi palsu, menyesatkan, dan hoax. Atau mungkin olahraga. Macam-macam, tergantung kebutuhan.

Bagi saya, istirahat saat karantina di rumah berupa mengisi waktu dengan konten-konten edukasi kesehatan mental. Sehingga saya tetap mindful, berharga, dan kalau memang mau menangis, ya akui saja emosi itu.

Terlepas dari informasi dan berita soal pandemi COVID-19 di media sosial dan televisi, saya memilih jeda agak jauh agar tetap kreatif di saat sulit. Saya tahu kalau saat ini banyak pekerja yang dirumahkan.

Saya memahami ternyata kekerasan domestik terhadap perempuan meningkat. Saya juga tahu kalau banyak teman-teman saya gagal daftar kartu pra kerja. Soal stafsus milenial apalagi.

Ditambah lagi, saya sadar kalau gabung atau ngerumpi di aplikasi Zoom. Malah jadi sasaran penyalahgunaan data pribadi pihak Zoom.

6. Ngerumpi

Iya, ngerumpi di aplikasi Zoom atau di aplikasi apa pun itu penting. Akibat social distancing atau jaga jarak ini, rasanya bakal kangen bertemu tatap muka.

Ngerumpi di rumah, mengobrol hal-hal ringan, atau mungkin melucu masih asyik dilakukan. Dibawa santai. Semua merasakan yang sama kok 😊

Normal yang baru

Daripada mengutuk atau menyebarkan hal-hal yang bikin suasana hati rusak, lebih baik jeda. Memang, orang beracun atau toxic people itu makin banyak. Bahkan saat pandemi pun. Tetapi gara-gara diri ini mesti kreatif di saat sulit, ada baiknya mesti tetap waras dan berserah pada Yang Kuasa.

Mungkin, hal-hal positif yang nggak disadari akan menjadi normal yang baru. Nah, bagaimana kalau kamu? Cerita dong di komentar. Ditunggu ya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *