Engineer and Programmer or Translator and Writer?

Apakah setiap orang punya jalannya masing-masing? Meski ia merasa salah langkah namun ia sangat menikmati dan mencintai apa yang membuat ia salah langkah.
Apakah setiap orang punya keahlian eksak? Kenapa hanya itu yang dipandang orang? Bagaimana dengan kemampuan bahasa dan sastra, yang sebenarnya mendukung semua orang untuk berkomunikasi?
Jadi, bagaimana?
Ada rasa iri ternyata. Menjadi programmer, teknisi, dan peneliti ternyata sangat menggiurkan dan menggoyahkan keyakinan saya untuk tetap bertahan di jurusan yang saya pilih. Ah, memang sih. Kemampuan analitis dan logika seseorang tidak bisa dipaksa. Namun bisa dilatih. Tapi, bagaimana jika kemampuan bahasa, menulis, membaca, dan menyukai sastra lebih dominan daripada apa yang saya inginkan?
Semua orang pernah mengalami ini. Saya yakin sekali.
Jadi? Jika kita menggabungkan semua itu, akan menjadi apa? Super? Hebat? Atau tertekan? Lihat saja nanti. 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *