Kisah Pak Ojek Hari Ini 5

Seperti biasa, pulang kerja magang. Saya memesan ojek online (ojol) dari ponsel. Dapat satu, lalu saya pun naik.

Percakapan antara saya dan pak ojol pun dimulai. Mungkin karena sehabis pulang kantor, terkadang ada pak ojol yang ajak ngobrol.
“Mbaknya tiap hari naik ojol?”
“Iya pak.”
“Biasanya dari mana mbak?”
“Stasiun Pasar Minggu pak.”
“Tiap hari kayak gini mbak naik ojol ke stasiun?” tanyanya heran.
“Ehehe, iya pak.”
Jelas heran, mungkin saja daerah kantor saya ada di tengah. Bisa ke Stasiun Pasar Minggu, bisa juga ke Stasiun MRT Cipete Raya. Mantap sekali ya Jakarta Selatan itu.
“Lain kalo kalau mbak pesan, titik jemputnya langsung di pos pantau aja. Sayang banget kan mbak, mahal.”
Jadi pos pantau itu nama tempat yang berdekatan dengan Stasiun Pasar Minggu, R***yana, dan JPO (Jembatan Penyeberangan Orang). Pos pantau ini sering digunakan basecamp untuk patroli Dishub dan polisi agar kemacetan bisa diurai.
“Itu karena dibikin mutar jauh ya pak?”
“Lah iya neng. Walaupun ojol juga tujuannya ke stasiun, rata-rata udah pada tau turunnya di pos pantau. Lumayan kan mbak bisa hemat 2.000-3.000. Segiu aja udah sangat berharga lho. Bisa dipakai buat yang lain. Apalagi tiap hari, mbak.”
Saya tertegun. Iya juga ya.
“Iya juga ya pak. Itu pun udah dipotong sama saldo G*p*y, kadang diskon juga.”
“Benar. Masih untung kalau dapat diskon ya neng. Masih enak. Jadi, ntar titiknya di pos pantau aja ya neng. Yang depan R***yana.”
“Baik pak, siap.”
“Saya juga ngasih tau gini ke tetangga. Penumpang juga saya kasih tau. Belum tentu juga kan penumpang pada tau kayak beginian.”
“Iya ya pak. Kayaknya bapak doang deh yang ngasih tau ini. Sebelumnya saya naik ojol juga nggak ada pak.”
“Nah iya kan. Apalagi tetangga saya juga cerita kan, berat banget kalau tiap hari pulang-pergi ongkos habis sampai 20.000 pakai ojol. Kalau misalnya di pos pantau, kan bisa setengahnya. Apalagi pakai diskon dan G*p*y, palingan dapat 8.000-10.000. Lumayan kan mbak? Mbaknya biasa ngabisin ongkos berapa?”
“Kadang di atas 10.000 sih pak.”
“Kalau pagi, masih murah mbak. Kalau jam sibuk dan malam, ya kalau dapatnya mahal, ya mahal juga hahaha.”
Kami pun berpisah di Stasiun Pasar Minggu, tepatnya di pos pantau depan mal R***yana. Di pos pantau, tempat ini memang dikhususkan sebagai lokasi titik antar-jemput penumpang ojol. Tujuannya, agar lalu lintas lancar dan kemacetan berkurang.
Kalau dipikir-pikir, ada benarnya untuk mengakali ongkos pulang-pergi kuliah atau kerja. Namun, tidak semua mau jujur untuk membantu, kan?
Dan tidak semua pelanggan mau sedikit usaha untuk mencari lokasi yang mudah dijangkau ojol. Paling tidak, jalan kaki sedikit 100-200 meter. Atau menyebrang sebentar, sambil hitung-hitungan kilometer yang paling dekat dengan tujuan.
Tepatnya beberapa minggu lalu, teman saya mengeluh kalau ongkos pulang-pergi dengan ojol bisa-bisa sampai 17.000 dalam sehari. Saya pikir mah sayang sekali dan kebetulan bisa bantu memberi referensi titik antar-jemput.
Kalau kamu, bagaimana wahai pekerja-pekerja yang budiman? Bagikan ceritamu yaa di komentar 🙂

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *