Kerja di Jakarta Selatan, rumah di Bekasi. Kebayang nggak tuh capeknya? Biar hemat, ini 8 lifehacks biaya transportasi di Jakarta. Begini langkahnya.

Kerja di Jakarta Selatan, rumah di Bekasi. Kebayang nggak tuh capeknya? Kalau investasi atau beli rumah di daerah Jakarta, worth it nggak ya? 

Kisah ini bermula dari magang sekitar 3 bulan lalu di daerah Jakarta Selatan. Dari Stasiun Pasar Minggu, cukup dekat sekitar 15 menit lewat jalan tikus. Kalau tidak, mungkin ada sekitar 20 menit. 

Membayangkan jalanan super penuh-padat-macet-panas-nggak ada pohon, bisa-bisa luntur juga nih tabir surya SPF 30. Apalagi selama rentang waktu 3 bulan, cukup sering terhirup asap kendaraan motor dan rokok di pinggir jalan. Kuat-kuatin dah.

Suatu ketika, saya nggak sengaja teringat 8 lifehacks biaya transportasi di Jakarta. Begini langkahnya. 

1. Hafalkan jadwal kereta

Bagi pejuang anker (anak kereta), wajib banget hafal jadwal jam sibuk kereta. Kereta beroperasi dari pukul 4.30, tapi baru sampai di Bekasi sekitar pukul 5.15-an. Di jam ini masih sepi. 

Jam paling ramai dari pukul 6 – 7.27 pagi. Di sini, bakal merasakan sensasi didorong, kaki terinjak, atau tiba-tiba nyungsep mengejar kereta.

Kalau tidak, kedatangan kereta dari Stasiun Bekasi bisa molor 30 menit – 1 jam. Solusinya, tetap pantau jadwal lewat aplikasi ponsel KRL Access. 

Seorang penumpang menunggu kereta di peron jalur 3, Stasiun Manggarai, DKI Jakarta (10 Oktober 2019). (Foto: Nadia K. Putri)
Seorang penumpang menunggu kereta di peron jalur 3, Stasiun Manggarai, DKI Jakarta (10 Oktober 2019). (Foto: Nadia K. Putri)

2. Kenali jam sibuk, karena banyak yang akses jadi makin mahal

Ini berlaku untuk pengguna ojek daring. Di jam sibuk, tarif ojek daring meningkat drastis. Sementara di waktu lengang, tarif kembali normal. 

Mungkin kalau sekali dua kali nggak masalah. Tapi kalau setiap hari, hmm. 

Dengan mengetahui jam sibuk, setidaknya mengurangi beban mental dan kecemasan. Kamu tidak perlu lagi sibuk membayangkan jalur mana yang pas menghindari macet.

Baca juga: Balada Hari Kerja

3. Pahami daerah stasiun

Ada stasiun yang padat setelah penumpang turun. Ada stasiun yang susah banget cari titik antar-jemput ojek daring, sampai perlu jalan 100-300 meter.

Ada juga stasiun yang penumpang nggak perlu desak-desakan tap out. Semua ada. Sebenarnya bisa memilih stasiun lebih sepi. Tapi di hari tertentu dan pas santai saja ya! 

4. Pilih titik antar atau jemput yang tidak perlu pakai putar jauh

Di sinilah pentingnya mengenal daerah stasiun. Seperti di poin sebelumnya, ada stasiun yang mengharuskan penumpang mengambil pesanan ojek daring agak jauh. 

Bisa-bisa, rute juga jauh karena harus memutar. Cukup menguras biaya ya. 

5. Jangan gengsi jalan kaki dan menyeberang, biar Pak Ojol nggak kelamaan nunggu 

Banget! Salah seorang pak ojol (ojek online) atau ojek daring sempat cerita saat saya pulang ngantor. Memang harus jalan sedikit supaya dapat murah, katanya. 

Apalagi Stasiun Pasar Minggu sekarang sudah ada jembatan penyeberangan orang (JPO). Nggak perlu lagi waswas menyeberang. Tarif ojek daring lebih murah seribu sampai lima ribu perak. Lumayan bukan? 

6. Jangan sungkan arahkan pak ojol lewat jalan tikus

Tidak semua bapak ojol hafal jalan tikus. Karena mereka random mengambil orderan dari wilayah yang memang membutuhkan. Kalau misalnya orang Bogor mengambil orderan di daerah Jakarta Selatan, siap-siap yuk hafal jalan tikusnya. 

Jika daerah kantor di Kemang, Mampang Prapatan, Cilandak, Cipete, Fatmawati (ini jauh banget) dan sebagainya, sebaiknya lewat jalan tikus Kompleks Polri yang bisa diakses lewat tanjakan Jatipadang atau jalur setelah perempatan lampu merah Mal Pejaten Village.

Lebih praktis lagi naik MRT dan turun di Stasiun Cipete Raya atau Fatmawati. Jika kamu sanggup berdesak ria dari Stasiun Manggarai ke Stasiun Sudirman ya. 

7. Hafalkan jalan tikus! Kenali daerahnya, tambah variasinya

Terakhir, menghafalkan jalan di era digital itu cukup PR. Tapi berguna kalau baterai low dan kemampuan navigasi terasah. Nggak rugi kok. 

Poster iklan sebuah produk perbankan di Stasiun MRT Dukuh Atas, DKI Jakarta (15 November 2019). (Foto: Nadia K. Putri)
Poster iklan sebuah produk perbankan di Stasiun MRT Dukuh Atas, DKI Jakarta (15 November 2019). (Foto: Nadia K. Putri)

8. Kalau sudah berkecukupan… 

Sudah saatnya investasi rumah di sekitaran Jakarta, tepatnya Jakarta Selatan. Coba deh obrolan gosip atau ngopi-nya diganti tw-tw (transfer wawasan) soal jual rumah di Jakarta. Siapa tahu kan dapat rumah kontrak atau sewa terjangkau agar lebih hemat. 

Nah sekian 8 lifehacks hemat biaya transportasi di Jakarta. Semoga lifehacks ini sedikit membantu pejuang-pejuang kereta ya! Selamat bekerja! 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *