Namamu

aku cinta ketika kehidupanku mulai bermekaran di musim semi
walaupun kini bukanlah musim semi,
kini pancaroba
aku mencintaimu seperti aku melakukan ritual tiap sabtu
aku merenung dibawah balutan cahaya putih
dan kayu kokoh untuk menopang kertas yang berisi namamu.
Namamu,
ya, kertas itu berisi namamu
Namamu yang membuatku terus merenung
kemudian berlinangan air mata tak karuan
dan kemudian aku tertawa,
ketika membaca lembaran kisah yang ada Namamu
aku cinta kehidupan ketika semua orang mengingat kematian
tak ada yang abadi, kan?
aku cinta kehidupan ketika keadilan ada
ketika gangster menghilang dari peradaban,
tergantikan oleh kelompok anti pengrusakan dan kedustaan
dan tahukah,
ketika mereka itu menjadi lengkap dan sempurna,
itu ketika ada namamu dalam kertas putih,
digelitik oleh pena hina.