Memasak Lauk

Sebenarnya ada pemandangan yang terasa normal di pasar, kegiatan bersiap-siap sebelum berdagang. Pernah memperhatikan? 
 
Waktu kecil, ibu terbiasa pergi ke pasar untuk membeli sayur dan lauk. Tentunya ibu melihat pemandangan kegiatan bersiap-siap di pasar. Misalnya mengeluarkan ayam dari sangkar bambu, mengikat kakinya, lalu membiarkannya. Jika ibu mampir sebentar ke kios sayur, ibu melihat penjual sayur masih menata kangkung dan bayam dengan rapi agar pembeli mudah mencari sayur yang terbaik. Jikalau ibu teringat ingin membeli kue-kuean, ia mampir ke lapak jajanan pasar yang rupanya si penjual masih beberes tatakan meja sambil mengusir-usir lalat yang menempel. 

Tapi itu bayangan saya, saya tidak tahu apa yang terjadi jika tidak ikut bersama ibu. Bayangan itulah yang akhirnya terwujud ketika berkunjung ke Pasar Beringharjo, Yogyakarta pada Agustus 2019 lalu. 
 
 
Saya dan ayah masuk pasar dari pintu belakang. Tepatnya daerah yang menjual sayur-mayur dan jajanan pasar. Daerah belakang atau selatan ini cukup kaya pilihan barang, tapi masih sepi karena masih jam 8 pagi. Saya pikir, pasar sebesar ini akan tumpah ruah sampai siang. 
 
Kami berkeliling dan menemukan banyak hal. Kegiatan bersiap itu tidaklah tergesa-gesa seperti orang-orang yang bekerja di kota. Masih ada yang ngopi, ngerokok, atau kipas-kipas karena kepanasan. 
 
Sementara itu, kami turun dari lantai dua (daerah sayur-mayur) ke lantai satu, yang banyak menjual aneka rempah dan jajanan pasar. Lalu, ayah mampir sebentar ke toko obat herbal, sedangkan saya berkeliling sebentar. Ndilalah, tidak sengaja bertemu dua orang ibu yang sibuk memasak lauk-pauk. Kios makanan itu juga menjual sate dan saat itu masih dibakar. Bahkan di sekitar kios itu, juga ada yang menjual kopi jos atau kopi arang. 
 
Sayangnya, tidak berlama-lama mampir di sana. Satu hari menjelajah Jogja itu kurang sekali. Misal ada kesempatan lagi, semoga bisa mencicipi kuliner khas di Pasar Beringharjo.
 
Bagaimana, pernahkah terlintas di bayangan pembaca saat memperhatikan suasana di pasar pagi hari? Yuk ceritakan pengalamanmu di komentar bawah ini ya! 

Comments

  1. Ericka Abdullah

    Aku suka mbak berkunjung ke pasar tradisional di manapun itu, baik di Indonesia maupun pas ke Luar Negeri, karena menurutku .. kita bisa melihat real life dari setiap bangsa ya di pasar tradisional 😉 salam kenal dan salam sayang ya dari Belanda

  2. Sabda Awal

    Kalau pagi2 belum pernah mbak, tapi dulu saya sempet jualan sendal di pasar bantuin kaka n bukanya jam 9 an, suasana hiruk pikuk pedagang mulai sortir barang udah berlalu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *