Nadia K. Putri

Karena semua cerita punya hatinya. Cerita soal di balik layar, fotografi dan gaya hidup.

Kerudung di acara garage sale, Kampung Kemang, Jakarta (11/1/2020). Foto: Nadia K. Putri/nadiakhadijah.com

Acara Garage Sale, Apa Jejak Tersembunyinya?

BTS
cerita
foto

Sudah membaca keuntungan mengadakan dan berpartisipasi di acara garage sale? Pernah terpikir ada jejak tersembunyi di balik barang yang diperjualbelikan?

Baju yang digantung di acara garage sale, Kampung Kemang, Jakarta (11/1/2020). Foto: Nadia K. Putri/nadiakhadijah.com
Baju yang digantung di acara garage sale, Kampung Kemang, Jakarta (11/1/2020). Foto: Nadia K. Putri/nadiakhadijah.com

Awal mula

Di acara garage sale waktu itu, saya temukan mayoritas barang berasal dari bahan kain, plastik, dan kulit sintetis. Kalau pun ada makanan dan minuman, itu lain cerita ya ๐Ÿ™‚

Baca juga: Dari Garage Sale Jakarta, Ini 4 Hal yang Bisa Ditemukan

Ini yang saya temukan. Dimulai dari kain ya!

a. Kain

Seberapa besar sih kandungan katun, rayon, poliester, nilon, linen, wol, rami atau sutera pada baju yang kamu pakai sehari-hari?

Umumnya, produsen pakaian sering menyertakan label. Misalnya petunjuk pencucian atau kandungan serat kain di sisi dalam pakaian. Jika kamu lihat, akan tertera, baju kaus bahan katun 50% dan nilon 20%. Artinya, dalam satu helai kaus ada dua bahan yang memperkuat daya tahan pemakaian dan penyimpanan kaus.

Lalu ada lagi label yang menyertakan โ€œjangan disetrika, cuci bilas, jangan dimasukkan ke mesin cuci, jangan diberi pemutihโ€ dan sebagainya. Ini artinya, tiap pakaian dengan bahan kain berbeda membutuhkan treatment berbeda pula.

Jadi supaya pakaian lebih awet, kenali dulu bahan-bahan kain yang sering digunakan.

1. Bahan alami

a. Katun

Pakaian kamu terasa adem? Bahan katun termasuk sering digunakan dan merupakan bagian dari serat alami. Sayangnya, lebih banyak baju berbahan katun yang kamu inginkan, artinya semakin luas pula lahan kapas yang diperlukan.

Terkadang, luas lahannya tidak diimbangi dengan penggunaan pestisida dan upah petani kapas. Belum lagi katun menghabiskan banyak air saat diproses menjadi sebuah baju atau celana yang kamu pakai.

Kerudung di acara garage sale, Kampung Kemang, Jakarta (11/1/2020). Foto: Nadia K. Putri/nadiakhadijah.com
Kerudung di acara garage sale, Kampung Kemang, Jakarta (11/1/2020). Foto: Nadia K. Putri/nadiakhadijah.com

b. Linen

Pernah lihat kerudung tegak sempurna dan tidak perlu sering disetrika? Atau, dress kantor yang sekali setrika langsung rapi. Jadi kalau buru-buru, langsung pakai deh.

Bahan linen sebagus itu ya? Selain lebih hemat waktu saat disetrika, juga hemat listrik.

Ternyata, linen itu sendiri berasal dari tanaman rami. Tanaman ini terbilang cukup tangguh karena tahan di kondisi tanah yang buruk. Untungnya, kain linen tidak begitu menghabiskan banyak air dibanding katun saat diproses menjadi pakaian.

d. Sutera

Kain sutera memang tampak berkelas untuk pakaian tertentu. Misalnya pakaian adat berupa ulos atau songket. Pengrajinnya pun juga cukup selektif memilih sutera terbaik untuk ditenun. Harganya pun fantastis, karena produksinya tidak semasif fast fashion.

Selalu ada tangan terbaik dibalik tenunan kain sutera.

Meski terbuat dari cacing sutera, tetapi tidak ada yang menyangka bagaimana cacing-cacing sutera ini dikumpulkan hingga diolah menjadi benang. Apakah dilempar ke tong mendidih? Atau setelah ngengat muncul dan pindah baru dikumpulkan?

e. Wol

Sweater, syal, atau pakaian-pakaian hangat berbahan wol memang tahan banting. Jika disimpan pun juga tahan lama.

Namun demikian, kain wol butuh waktu pemrosesannya. Seperti yang pernah kamu baca waktu kecil, kain wol berasal dari bulu-bulu tebal domba. Kemudian dikumpul hingga diproses menjadi benang.

Semakin banyak benang wol yang dibutuhkan, semakin besar pula lahan dan jumlah ekor domba.

Pernah terbayang betapa baunya gas metana dari kotoran domba? Masih lumayan mah kalau didaur ulang jadi biogas. Bagaimana kalau tidak? Akan berapa banyak lagi jejak karbon hanya untuk produksi benang dan kain wol?

Dan bagaimana kalau produksinya masif?

Bahan-bahan alami dari kain ini bisa didaur ulang. Namun dengan syarat:

  • Bebas pemutih dengan klorin dan pewarna sintetis.
  • Diproduksi sesuai permintaan, bukan secara masif.
  • Hm, poin satu dan dua sepertinya tidak mungkin ya? Kalau pun ada, harganya selangit.  Bagaimana menurutmu?

2. Bahan sintetis

a. Rayon

Disebut kain viscose atau viskosa. Rayon sebenarnya terbuat dari pulp kayu yang diolah bersama asam sulphuric dan soda kaustik. Untuk menghasilkan satu baju, jumlah air yang dibutuhkan cukup besar.

Siapa sangka ternyata untuk menghasilkan satu pakaian berbahan rayon atau campuran lainnya, itu butuh lahan bambu yang luas. Belum tentu lahan itu asli dari sononya. Bisa saja, awalnya hutan lindung atau hutan hujan, lalu karena ada investor, ditebang jadi lahan. Siapa tahu kan?

Coba cek dulu, baju kamu atau baju hasil thrift shop/acara garage sale berbahan rayon tidak?

b. Nilon

Kenal benang nilon kan? Saya juga punya di rumah. Sayangnya, waktu itu saya tidak tahu kalau nilon termasuk bahan sintetis yang sulit didaur ulang. Ini karena nilon terbuat dari bahan-bahan petrokimia. Artinya, ada pabrik, corong asapnya, listrik, bensin, dan…. pekerja skala besar dibaliknya dong?

Kain berbahan nilon (kadang dicampur poliester) umumnya digunakan pada pakaian olahraga, baju hangat, pakaian dalam, dan sebagainya.

Tetapi, pernah tidak sih saat mencuci pakaian ini, kamu butuh lebih banyak air untuk membersihkan noda bandel? Kalau iya, itu juga yang terjadi saat nilon diproses menjadi sebuah pakaian. Boros air.

Eits, tapi pernah dengar soal nilon daur ulang? Ceritakan pendapatmu ya di komentar!

c. Poliester

Selain nilon, poliester juga sering digunakan produsen pakaian olahraga. Makanya, kamu yang hobi futsal atau olahraga, bakal kenal banget dengan bahan satu ini.

Banyak yang kurang suka kalau bahan poliester kurang menyerap keringat. Bikin gatal-gatal, biang keringat, atau bahkan eksim.

Wajar, karena poliester terbuat dari polimer plastik dan ester. Ester merupakan bagian dari hasil campuran antara minyak bumi, alkohol, dan asam karboksilat. Full chemical.

Tetapi tenang, supaya tetap menyerap keringat dan cepat kering, poliester juga bercampur dengan bahan lain. Misalnya katun.

Sayangnya, ya, tetap boros air. Begitu dicuci, mungkin saja ada mikroplastik terburai bersama air. Tidak kelihatan memang.

d. Spandeks/Lycra/Elastan

Kamu suka pakai legging atau jegging (jeans legging)? Atau kaus kaki yang bisa dipakai saat wudu? Atau, baju yoga super elastis dan cepat serap keringat? Atau punya bra dan bikini dari bahan tersebut?

Terkenal elastis, ternyata spandeks/lycra/elastan terbuat dari poliuretan. Lagi-lagi, diproduksi masif juga kan?

Empat bahan kain sintetis ini cenderung sulit didaur ulang. Kalau pun bisa, mungkin butuh strategi tertentu agar kain tetap kuat dan layak dipakai.

Di acara garage sale, mayoritas kain yang saya temukan berupa katun, nilon, poliester, wol, spandeks, dan rayon. Syukur-syukur kalau terjual. Sampah kain terhindarkan dan pakaian berputar di tangan-tangan yang tepat. Jadilah circular economy, yakni diproduksi โ€“ digunakan โ€“ dibuang โ€“ dipakai kembali.

Sayangnya, kain-kain seperti ini pernah saya temukan di tempat sampah. Mungkin kamu pernah lihat juga di bantaran sungai atau laut.

Selain kain, ada plastik dan kulit yang saya temukan di acara garage sale. Tunggu pembahasan selanjutnya ya!

Bacaan lebih lanjut:

5 Comments on “Acara Garage Sale, Apa Jejak Tersembunyinya?”

  1. Kunjungan perdana ke blog ini. Garage sale itu untung untungan. Pembeli yang beruntung dapat produk yang masih layak seperti produk baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *