Nadia K. Putri

Karena semua cerita punya hatinya. Cerita soal di balik layar, fotografi dan gaya hidup.

Penumpang menumpuk di area eskalator Stasiun Tanah Abang, Jakarta (28 Agustus 2020). Foto Nadia K. Putri-nadiakhadijah.com

Hasil Tes Swab, Seberapa Penting?

BTS
life

Hasil tes rapid reaktif. Saya langsung isolasi mandiri di rumah. Tapi apakah hasil tes swab negatif? Atau positif? Mari lanjutkan cerita ini.

Diajak maksi dulu

Sebelum tes sih diajak maksi (makan siang) yang enak-enak dulu. Biar hati nggak semakin down. Xièxiè māmā!

Yang sebelumnya saya sebut mindfulness, ternyata saat diterapkan cukup sulit. Sambil makan pun suka kepikiran “ini positif nih kayaknya”. Padahal lebih enak merasakan tekstur lauk yang digigit beserta menyeruput manisnya jeruk hangat kan?

Soal mindfulness, baca juga: Pengalaman Tes Rapid, Perlu Tes Lagi Nggak?

Tapi ibu bilang begini.

“Minum vitamin C (sebotol) kak, biar daya tahan tubuhnya kuat.”
“Ini nanti (vitamin C sebotol) diminum habis makan siang. Kalau malam malah sakit perut.”

Saya hanya mengiyakan. Kalau diingat-ingat dari kampanye kesehatan soal COVID-19, banyak anjuran konsumsi vitamin C untuk menguatkan imun. Namun bukan berarti konsumsi vitamin lainnya berkurang ya.

Rasanya dicolok-colok!

Setelah lama antre, nama saya dipanggil perawat. Ia lengkap mengenakan APD warna putih plus sepatu karet. Wajahnya dilindungi face shield dan google (kacamata khusus).

Orang berpakaian super ini nyata di mata saya. Bukan hoaks atau konspirasi lagi. Untungnya saya sudah sabar-sabar membaca cerita tenaga kesehatan sebelum menghadapi ini.

Masuk ke ruang khusus tes swab, ada seorang perawat di sana. Ia menyapa saya dan tenang meladeni obrolan receh saya. Gara-gara keder melihat stik es krim.

“Mbak, ini stik dimasukin ke hidung dan tenggorokan ya?”
“Oh bukan, ini itu untuk nahan lidah mbak,” jawabnya tertawa.

Yhaa bisa saja kan pakai stik es krim itu untuk nyolok hidung dan bagian belakang lidah. Serem!

“Nanti pas dimasukin, mbaknya bilang ‘AAA’ ya?”
“Dibawa rileks aja ya mbak, ikutin saya .”
“Kepalanya ngikut ya mbak.”

Lalu alat tes swab mirip cotton bud masuk di hidung dan tenggorokan. Coba deh bayangin sendiri. Ada yang punya pengalaman tes swab? Cerita di kolom komentar ya!

Isolasi mandiri demi pulih fisik dan mental, sambil memandangi kucing dari jendela kamar (31 Agustus 2020). Bagaimana hasil tes swab? Belum tahu. Foto Nadia K. Putri-nadiakhadijah.com
Isolasi mandiri demi pulih fisik dan mental, sambil memandangi kucing dari jendela kamar (31 Agustus 2020). Bagaimana hasil tes swab? Belum tahu. Foto Nadia K. Putri-nadiakhadijah.com

Isolasi mandiri

Saya menumpang isolasi mandiri di kamar adik saya. Saat itu, kamar saya sedang direnovasi. Jadilah seisi kamar adik berantakan. Mulai dari buku di rak, dipindah ke kamar dan bertumpuk.

Ditambah lagi kardus-kardus kamera dan laptop. Kamar pengap karena sedikit angin masuk. Laptop susah Wi-Fi karena kartu eternetnya rusak. Jadilah kabel LAN berseliweran. Pusing lihatnya.

Baru masuk kamar saja sudah harus disinfektan barang dari tas. Ini bagian menyebalkan. Sebenarnya, penting nggak sih disinfektan barang ini?

Disinfektan barang dari tas ransel

Saya baca-baca kembali artikel tentang disinfeksi barang. Ternyata, ada yang perlu disinfeksi. Misalnya yang sering disentuh dan kena kontak langsung dengan percikan atau ludah. Apa saja?

Ada ponsel, kotak kartu KRL, charger ponsel, dompet, laptop, botol minum, kotak bekal, alat makan (sendok, garpu, sumpit), dan tisu kemasan. Barang-barang esensial ini yang saya disinfektan.

Baru teringat, ada penelitian yang menemukan bahwa virus COVID-19 bisa bertahan di permukaan benda: metal, gelas, plastik, atau benda apa pun. Asal si virus bisa bertahan beberapa jam sampai 9 hari di luar. Selengkapnya klik di NY Times ya.

Barang yang saya pakai, dipisah dan sebagiannya sekali pakai

Jujur selama isolasi mandiri, saya kurang setuju dengan barang sekali pakai. Misalnya kotak makan ala catering dan kotak buah plastik. Niatnya baik, untuk mengurangi perpindahan virus ke orang rumah. Tapi… sampah plastiknya itu loh. Terlanjur menggunung di TPA.

Mau tidak mau sih sebenarnya. Ada rasa sedikit terkucilkan karena dari segi barang saja dan keranjang sampah saja khusus.

Makanan 3x sehari diantar, lalu ditaruh depan kamar. Usai makan? Cuci sendiri haha! Jadilah seperti di bawah ini.

Higienis, tapi…

Semua barang yang dipakai di luar rumah, disemprot alkohol 70%. Atau dilap dengan hand sanitizer. Cuci tangan sebelum dan sesudah makan. Langsung cuci piring biar mudah dibersihkan. Terapkan etika batuk dan pilek. Langkah yang bagus, mengapa nggak dari dulu?

Berjemur di pagi hari

Beruntung, selama 3-4 hari isolasi mandiri, saya masih diperbolehkan berjemur di balkon rumah. Untungnya tidak kaget kalau soal ini, karena 2 tahun lalu saya melakukan hal yang sama. Tapi beda tujuan: untuk tanning.

Saat isolasi mandiri, berjemur itu untuk “menghilangkan virus” di tubuh. Semacam sugesti. Padahal sebenarnya, berjemur itu untuk menjaga asupan vitamin D di kulit. Paparan sinar matahari memberi rasa bahagia.

Dan bagaimana hasil tes swab-nya?

Alhamdulillah hasil tes swab negatif. Di hari kelima, saya sudah tidak isolasi mandiri lagi. Dan rasanya penting tahu hasil tes swab negatif atau positif. Supaya bisa jaga orang rumah.

Penumpang menumpuk di area eskalator Stasiun Tanah Abang, Jakarta (28 Agustus 2020). Foto Nadia K. Putri-nadiakhadijah.com
Penumpang menumpuk di area eskalator Stasiun Tanah Abang, Jakarta (28 Agustus 2020). Foto Nadia K. Putri-nadiakhadijah.com

Tapiiii, nantinya akan naik transportasi umum lagi. Pernyataan terakhir sih yang agak seram.

Saya hanya berharap yang baik-baik. Sambil menerapkan protokol kesehatan.

Kapan berakhir?

Tidak ada yang tahu. Pengalaman tes swab ini mengajarkan saya untuk harus bertahan dan menjaga kesehatan. Tidak ada yang lain bukan?

Siapa tahu jika sudah berakhir, akan ada kejutan baru. Siap-siap saja yuk sambil belajar skill baru.

Bagaimana denganmu? Bagikan pengalaman tes swab kamu di kolom komentar ya 🙂

2 Comments on “Hasil Tes Swab, Seberapa Penting?”

    • Keder itu semacam rasa takut, waswas, gemetar, gentar, gelisah, dan gugup. Oh iya, ini saya cek lewat KBBI Daring dan Tesaurus Kembdikbud ya kak. Monggo dicek hehe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *